Langsung ke konten utama

Cerita Petani Tentang Pupuk Subsidi

Pupuk menjadi salah satu penunjang Swasembada pangan,
petani Desa Kanreapia mempunyai Cerita tentang pupuk Subsidi yang di subsidi oleh pemerintah. Menurut para Petani, di semua dusun yang ada di Desa Kanreapia bahwa sepanjang ingatan Mereka. Pupuk Subsidi tidak pernah Normal dari Harga yang di tetapkan pemerintah yakni Harga Enceran Tertinggi (HET). Melalui Sebar koesioner oleh Mahasiswa Unhas Fakultas Pertanian beberapa waktu yang lalu menunjukkan semua jawaban petani (responden)  tentang pupuk yang mereka beli yakni pupuk Urea dengan harga Rp. 110.000, Rp. 115.000 hingga Rp. 120.000/50 kg. Harga HET pupuk Urea yaitu Rp. 1.800/kg X 50 = 90.000, tidak di ketahui oleh petani, anggapan petani bahwa pupuk urea tergantung penjual, mereka tidak mengetahui HET dari pemerintah, itu di akibatkan karena Penjual di toko tidak memasang papan, informasi, baik sebagai agen resmi maupun harga pupuk subsidi. Transparansi pupuk Subsidi ternyata belum di informasikan kepada rakyat petani di pedesaan, ini menunjukkan perlunya tindakan dari pemerintah pusat untuk melakukan pengawasan ke pelosok – pelosok agar apa yang di programkan pemerintah benar – benar terlaksana dan memenuhi enam prinsip. 1. Tepat Jenis. 2. Tepat jumlah. 3. Tepat Harga. 4. Tepat Tempat. 5. Tepat Waktu  dan 6. Tepat Mutu. Jangan Sampai anggaran Pupuk subsidi hanya di nikmati oleh segelintir orang – orang yang menyalah gunakan mandat keagenan. Komisi Pengawasan Pupuk dan Pestisida juga di harapkan mampu mengambil peran aktif menengur agen yang melakukan pendistribusian pupuk subsidi di atas harga HET.

#Cerita Petani Gowa. Untuk Pemerintah,
#Jangan biarkan petani menjerik. #Jangan Biarkan Petani Mogok Bertani      

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Pertanian Organik dan Konvensional

Pertanian Organik dan konvensional Pada dasarnya kedua sistem pertanian ini menggunakan teknik sama, namun yang membedakan adalah penggunaan bahan untuk membantu proses pertumbuhan dan hasil tanaman. Apabila dengan sistem organik bahan-bahan yang digunakan relatif aman karena berbahan dasar dari alam sedangkan sistem konvensional lebih cenderung menggunakan bahan-bahan kimia untuk mempercepat proses panen tanaman. Hal tersebut adalah perbedaan utama dari sistem pertanian organik dan konvensional. Adapun secara lebih spesifik lagi, perbedaan dua sistem pertanian ini bisa dilihat dari dua aspek yaitu kelanjutan ekosistem dan hasil. Adapun untuk kelanjutan ekosistem, perbedaan antara dua sistem pertanian ini tampak dalam: Prioritas, apabila konvensional lebih mengutamakan kuantitas produksi tanaman sedangkan organik lebih cenderung memperhatikan kestabilan ekosistem dan keseimbangan unsur-unsur dalam tanah, Sifat, dalam sistem organik keharmonisan antara ekosistem dan tanaman alami se...

Ratusan Mahasiswa Polbangtan Gowa Study Pertanian di Desa Kanreapia Tombolo Pao Gowa

  Sekitar 245 Mahasiswa Tk. I dan II program studi D-IV Penyuluhan Pertanian Berkelanjutan Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Gowa melaksanakan kunjungan praktik lapangan di Desa Kanreapia Kecamatan Tombolopao Malino Kabupaten Gowa (19/06).

Lahan Pertanian Kanreapia Jadi Tempat Belajar Pemuda Bine

  Beberapa tahun terakhir lahan pertanian Kanreapia menjadi kunjungan study pertanian, lahan - lahan pertanian menjadi tempat belajar, tempat diskusi dan jelajah desa Kanreapia